Strategi Farmasis dalam Menekan Angka Medication Error di Rumah Sakit
December 29, 2020 2025-12-29 3:38Strategi Farmasis dalam Menekan Angka Medication Error di Rumah Sakit
Strategi Farmasis dalam Menekan Angka Medication Error di Rumah Sakit
Keamanan pasien merupakan prioritas tertinggi dalam manajemen pelayanan kesehatan di rumah sakit, di mana penerapan Pharmacist Strategies menjadi kunci utama dalam meminimalisir risiko kesalahan pengobatan atau yang dikenal sebagai medication error. Kesalahan dalam pemberian obat dapat terjadi pada berbagai tahap, mulai dari penulisan resep oleh dokter, pembacaan resep oleh staf farmasi, hingga administrasi obat kepada pasien di bangsal perawatan. Oleh karena itu, tenaga farmasi profesional kini mengadopsi pendekatan sistematis yang mencakup validasi ganda, penggunaan teknologi otomasi, dan rekonsiliasi obat yang ketat. Dengan pengawasan yang berkesinambungan, potensi terjadinya interaksi obat yang membahayakan atau dosis yang tidak tepat dapat dideteksi jauh sebelum obat tersebut sampai ke tangan pasien, sehingga menciptakan lingkungan perawatan yang jauh lebih aman dan terpercaya.
Dalam tinjauan operasional yang dilakukan pada bulan Oktober 2025 di beberapa rumah sakit umum daerah, terlihat bahwa implementasi teknologi barcode dalam pemberian obat telah menurunkan tingkat kesalahan identifikasi pasien secara signifikan. Salah satu bentuk nyata dari Pharmacist Strategies adalah pemberlakuan sistem Unit Dose Dispensing (UDD), di mana obat disiapkan dalam dosis tunggal yang siap pakai untuk setiap waktu pemberian. Data dari komite keselamatan pasien menunjukkan bahwa pada hari Rabu, 12 November 2025, integrasi sistem informasi farmasi dengan rekam medis elektronik telah membantu apoteker dalam melakukan peninjauan klinis secara real-time. Hal ini sangat penting terutama pada unit perawatan intensif (ICU) di mana perubahan kondisi klinis pasien terjadi sangat cepat dan memerlukan penyesuaian dosis obat yang sangat presisi agar tidak menimbulkan toksisitas.
Selain aspek teknologi, peningkatan komunikasi interprofessional menjadi pilar pendukung dalam keberhasilan Pharmacist Strategies di rumah sakit. Apoteker kini terlibat langsung dalam kunjungan bangsal (ward round) bersama tim dokter dan perawat untuk memberikan masukan langsung mengenai pemilihan obat yang paling efektif dan efisien. Berdasarkan laporan tahunan mutu pelayanan rumah sakit, keterlibatan aktif ini berhasil mengoreksi sekitar 15 persen ketidaksesuaian resep pada tahap awal. Selain itu, petugas farmasi juga bertanggung jawab penuh dalam pengelolaan obat-obatan kategori High Alert, yaitu obat yang memiliki risiko tinggi menyebabkan cedera serius jika terjadi kesalahan penggunaan. Prosedur penyimpanan yang ketat dengan pelabelan khusus dan pemisahan obat yang memiliki rupa atau nama yang mirip (LASA) menjadi standar wajib yang tidak boleh diabaikan dalam operasional harian.
Edukasi berkelanjutan kepada staf medis lainnya juga merupakan bagian integral dari upaya pencegahan kesalahan ini. Apoteker sering mengadakan pelatihan internal untuk memperbarui pengetahuan perawat mengenai cara pengenceran obat suntik yang benar dan stabilitas obat setelah dilarutkan. Melalui penerapan Pharmacist Strategies yang komprehensif ini, rumah sakit tidak hanya memenuhi standar akreditasi kesehatan nasional, tetapi juga membangun kepercayaan publik terhadap kualitas layanan medis yang diberikan. Kesadaran bahwa keselamatan pengobatan adalah tanggung jawab bersama memastikan bahwa setiap protokol yang dibuat dijalankan dengan disiplin tinggi oleh seluruh elemen rumah sakit. Dengan demikian, angka medication error dapat ditekan hingga titik terendah, memastikan setiap pasien mendapatkan terapi yang optimal tanpa mengorbankan keamanan fisik mereka selama masa pemulihan.
